Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Tuesday, September 10, 2013

Takdir Semesta ? (makna hidup)

Sejak awal keberadaannya, semesta adalah suatu ke-khas-an yang sudah ditentukan. Lalu ke-khas-an itu bereaksi dalam dirinya sendiri, dengan reaksi yang khas (ter-tentu) pula. Jadilah ia berubah wujud. Hanya berubah susunan, bukan perkembangan ataupun pertumbuhan (penambahan). Perubahan susunan itu alami begitu saja mengikuti reaksi dalam dirinya sendiri. Ada pengelompokan, ada pemisahan sehingga terjadilah berbagai bentuk kombinasi materi-energi. Terjadilah berbagai perwujudan. Semua materi-energi berlaku reaksi yang sama dan konsisten.

Sampai pada fase tertentu, kombinasi itu itu mewujudkan kehidupan di dalamnya. Dalam bentuk sel, tanaman, hingga manusia. Dengan adanya kehidupan, semesta ini dapat merasakan dirinya sendiri. Setidaknya melalui susunan tubuh manusia yang bisa kita ketahui bersama. Seiring perjalanan kehidupan, terjadilah penambahan nilai bagi rasa, seperti rasa nyaman dan kesenangan. Itu karena akal manusia berfungsi sebagai alat pantul semesta. Berbagai informasi masuk ke akal manusia dan kemudian terpancar melalui aktifitasnya. Aktifitas yang memunculkan berbagai aspek pengetahuan dan teknologi yang memudahkan.

Dalam penambahan nilai bagi rasa ini, tak bisa dilepaskan oleh peran semua makhluk hidup di luar manusia. Mereka semua setiap saat bekerja merubah susunan materi dan energi menjadi manfaat lebih. Sekalipun ketika alam dirusak oleh manusia, mereka tetap bekerja walaupun sebagian pekerjaan mereka kadang menjadi kontra produktif bagi manusia. Misalnya sekelompok tomcat yang masuk ke permukiman dan melukai manusia, karena habitat tomcat yang dirusak oleh manusia. Tomcat terus bekerja bagi kehidupan, namun ia menjadi kehilangan arah dalam pekerjaannya itu akibat ketidak seimbangan ekosistem.

Rasa yang ada dalam kehidupan, hanya dapat menyaksikan dan merasakan, tak dapat ia memilih sikap. Apa yang dinamakan kehendak, pada dasarnya hanya rasa (efek), bukan sesuatu yang mandiri/ bebas. Apa yang dirasakan individu saat memilih, pada dasarnya adalah efek kalkulasi reaksi pantulan semesta yang terjadi dalam ranah materi-energi.

—-

Dari uraian di atas, kehidupan apabila ditilik dari sudut pandang ilmiah, adalah suatu reaksi materi-energi yang bisa diformulasikan walaupun mungkin tidak akan pernah sempurna.
Apakah itu berarti bahwa kehidupan hanya memiliki hukum materi-energi? Pada tingkatan dasar, iya.
Tetapi pada tingkat yang lebih tinggi, kehidupan memiliki hukum yang lain, yaitu hukum baik-jahat. Hukum baik-jahat tidak di level yang sama dengan hukum materi-energi, sehingga masing-masingnya dapat berjalan secara mandiri. Yang satu tidak akan mengganggu yang lain.

Keberadaan hukum baik-jahat ini karena ke-khas-an semesta dalam reaksinya memiliki sebaran pola (skenario) yang khas pula. Perjalanan paralel dari semesta sebaran skenario itu memiliki benang merah yang mencerminkan konstruksi hukum baik-jahat. Kebaikan menuai kebaikan. Kejahatan menuai keburukan.Secara langsung maupun tidak langsung sesuai kalkulasi tertentu. Dalam satu kehidupan maupun lintas kehidupan.

Kitab suci menerangkan formula dari semesta skenario, sebagai informasi verbal (software) yang melengkapi informasi empiris semesta (hardware) yang diterima. Kitab suci memberikan kerangka acuan yang memungkinkan kemanfaatan hidup bergerak terarah naik.

Kitab suci banyak menerangkan bagaimana kaum dzolim kemudian tertimpa azab akibat kedzolimannya itu, misalnya gempa bumi. Apabila ditilik dari metode ilmiah, jelas tidak akan ditemukan sebab-akibatnya. Tetapi penjelasannya adalah : semesta skenario tersambung antara skenario manusia yang dzolim dengan pergerakan dalam inti bumi. Kejadiannya akan tepat berunutan. Namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua bencana diartikan azab. Azab ataupun musibah, akan diartikan sesuai alur dari tiap individu yang spesifik.

Problem Kebenaran ?

Kebenaran bukan sesuatu yang rumit. Kebenaran adalah perubahan. Karenanya diperlukan batin yang selalu tenang untuk menghadapinya, maka hidup pun bahagia. Ketenangan batin itulah kebahagiaan. Batin yang memandang perubahan sebagai sesuatu yang wajar.

Apabila sekarang hidup besok mati, pantes.
Sekarang enak nanti bosen, wajar.
Sekarang merasakan pahit besoknya dapat yang manis, wajar juga.
Sekarang kesakitan nanti nyaman, ok.
Sekarang dipuja besok dimaki, biasa.
Sekarang kepanasan lanjut kedinginan, kenapa tidak?
Sekarang having fun besok kena bencana, bisa saja.
Sekarang gagal tahun depan sukses, maklum.
Sekarang berusaha keras tapi tak berhasil, lain waktu diam saja malah dapat hasil, ya begitulah.

Segala keadaan, tak akan diterima sebagai kesengsaraan manakala batin selalu merasa tenang.
Tetapi apakah semudah itu mengkondisikan batin untuk tenang?
Itulah problem umat manusia, dari dulu hingga kini.

Semakin bertambah pengetahuan, semakin bervariasi bentuk perubahan di muka bumi.
Maka agama hadir untuk mengkondisikan batin manusia agar selalu tenang menatap perubahan.
Bagaimana yang tak percaya pada agama?

Ya tentu dipersilahkan untuk mencari-cari sendiri caranya. Dan, bahagia atau tidak bahagia pun adalah hak tiap individu.

Apakah 'Ruang' itu? Apakah 'Kosong' itu ?

Adalah istilah imajiner (bayangan) yang gunanya membantu pikiran ketika berbicara tentang suatu keadaan ter’tentu’.
Ruang dalam arti materi sesungguhnya tak ada. Tulisan ini salah satunya dimaksudkan agar kita tidak terkecoh tentang konsep ADA.

Misalkan berbicara tentang atom, akan terbayangkan ruang atom. Misal berbicara tentang perangkat meja makan yang dipakai untuk makan, akan terbayangkan ruang makan. Berbicara tentang sekelompok perangkat yang dipakai untuk menerima tamu, akan terbayangkan ruang tamu.

Ruang yang di situ-situ saja bisa memiliki makna yang berbeda di waktu yang berbeda. Misal ruang makan bisa dirubah menjadi ruang tamu apabila perangkat meja makannya disingkirkan dan diganti perangkat meja tamu. Ruang rekreasi yang menyenangkan bisa berubah menjadi ruang penjara yang menyengsarakan bila di tempat rekreasi itu kemudian dibangun penjara. Ruang pemandangan alam yang indah bisa berubah jadi ruang bencana alam yang mengerikan apabila alam di situ mengalami bencana dahsyat.

Lebih dari itu, ruang yang di situ-situ saja juga bisa memiliki makna yang lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan.
Misal sebuah ember yang terdiri dari bongkahan es yang sebagian telah mencair, maka di situ setidaknya terdapat ruang air, ruang udara, dan ruang es.
 
Lebih jauh lagi, keadaan di sekitar kita juga sebenarnya adalah ruang yang multi makna sekaligus, yang terdiri dari :
-       - Ruang udara,
-       - Ruang bakteri,
-       - Ruang gelombang pesawat radio,
-       - Ruang gelombang pesawat televisi,
-       - Ruang gelombang telekomunikasi seluler,
-       - Ruang magnet, dll

Apabila ada banyak ruang, berarti ada ‘batas’ antar ruang. Bahkan ada ‘jarak’ antar ruang. Tentu saja konsep ‘batas’ dan ‘jarak’ ini tidak selalu berwujud dalam satuan panjang. ‘Batas’ atau ‘jarak’ bisa berupa hal-hal lain tergantung keadaan yang sedang diamati.

Misal, ‘batas’ antara ruang es, ruang air dan ruang uap air, adalah pada suhunya.
Berdasarkan ilustrasi yang sederhana di atas, dapatlah dijadikan acuan dalam memahami lingkup yang lebih luas, tentang konsep semesta ini.

Semesta yang terletak antara bigbang dan blackhole, adalah suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu itu dapat teramati oleh sains yang menjadi bagian dari keadaan itu sendiri. Sebelum ‘keluar’ melalui big bang dan setelah ‘terhisap’ oleh blackhole, keadaan tertentu yang kita pahami ini adalah suatu keadaan tertentu yang lain.

Ruangan keadaan tertentu yang lain, adalah di sini-sini juga, hanya kita tak dapat menjangkau itu karena sifatnya yang berbeda dengan sifat sains. Hal itu identik dengan keberadaan ruang air di antara bongkahan es yang bergerak mencair.

Berapa macam dan berapa banyakkah keadaan tertentu yang lain itu? Jelas kita tidak akan tahu.
Yang jelas adalah bahwa kita tidak bisa menyatakan bahwa awang-awang (yang terlihat kosong) ini adalah hampa mutlak. Tetapi di balik kekosongan itu sesungguhnya ada berbagai keadaan tertentu yang mungkin sekali memiliki otoritasnya sendiri (mandiri).

Iman, Keterkungkungan Manusia, dan Kekuasaan Tuhan

Memang demikianlah. Kalaupun seseorang mengaku bertuhan, tuhan itu tak lain adalah persepsinya sendiri. Persepsi itu bergerak-gerak. Bisa naik, juga turun. Pemahaman yang semakin mendalam lazimnya akan membawa persepsi yang beranjak naik. Sebaliknya pemahaman yang menyempit akan menurunkan persepsi tentang Tuhan.

Persepsi seseorang yang sudah tinggi, tetap saja tak akan menjangkauNYA. Maka dia akan mencoba lagi menaikkan persepsi itu, begitu seterusnya manusia berjuang mendekati Tuhan. Perjuangan menaikkan persepsi itulah yang punya makna bagi orang tersebut, bukan pencapaian kepada Tuhan.
Maka sekali lagi, betapapun manusia berusaha, tak akan dia mampu menjangkau Tuhan. Akan tetapi hal itu tak berarti bahwa dia telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Ketidak mampuan manusia menjangkau Tuhan itupun tidak berarti dia terputus dengan Penciptanya. Tidak sama sekali.

Manusia di belantara keberadaan, laksana ikan yang berenang di dalam aquarium. Ketika lapar, dia hanya dapat bergerak penuh pengharapan di dalam aquarium itu. Ikan tak akan dapat menepukkan siripnya ke sang pemilik. Tetapi pada saat itu, sang pemilik ikan tersenyum melihat polah sang ikan dan ia pun memasukkan makanan bagi si ikan.

Tuhan lah yang akan menjangkau makhlukNYA. DIA kan tahu di antara hambaNYA yang telah berusaha mendekatkan diri kepadaNYA, siapa yang telah berhenti berusaha. Siapa di antara hambaNYA yang telah mengerahkan daya dengan kesungguhan, siapa yang hanya berpura-pura, siapa yang acuh tak acuh. DIA tahu siapa yang telah memelihara kesombongan dalam hatinya, DIA tahu apapun yang terjadi.

Adapun tentang persepsi itu, tidaklah bermanfaat sama sekali bagi Tuhan. Ia hanya akan menjadi kebaikan bagi manusia sebagai tangga-tangga menuju kepadaNYA. Selain daripada itu, persepsi-persepsi yang baik akan membawa hikmah perubahan hidup sehari-hari, paralel terhadap upayanya mengolah berbagai potensi dirinya.

Persepsi tidak berbeda dengan bahasa. Bahasa adalah persepsi tentang berbagai hal. Kata “meja” mewakili obyek meja, meskipun kata “meja” itu tak mampu melukiskan secara tepat wujud meja yang sesungguhnya. Tetapi meskipun tak tepat betul, kata-kata sangat memudahkan manusia. Seseorang tidak perlu selalu memeluk meja untuk mengungkapkannya kepada orang lain. Cukuplah dia mengatakan “meja”, maka orang yang diajak bicara akan mengerti. Dengan bahasa lah manusia membangun berbagai pengetahuan. Dengan bahasa manusia membangun peradaban.

Maka begitu pula persepsi tentang Tuhan yang Maha Suci. Persepsi meskipun tak pernah menjangkau Tuhan, tetapi persepsi itu akan menjadi alat bantu manusia dalam mewujudkan kemuliaan-kemuliaan dalam hidupnya. Cita-cita luhur senantiasa akan tergantung untuk dicapai. Terus menerus cita-cita itu meninggi, dan karenanya terus menerus pula ia akan berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Semesta Muncul dengan Sendirinya?

Pertanyaan yang sederhana saja. Sebagian orang berpendapat bahwa semesta ini tercipta dengan sendirinya. Yaitu big bang muncul dengan sendirinya oleh proses yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Nah, kalau memang demikian, kenapa big bang tidak pernah terjadi lagi sejak 13,7 Milyar tahun yang lalu? Dalam kurun waktu yang luar biasa panjang itu, tak pernah muncul lagi peristiwa big bang kedua, big bang ketiga dst di kolong langit ini. Mungkin jawabannya adalah karena tidak ada “syarat” terbentuknya big bang selanjutnya. Apakah harus ada syarat lagi ketika dikatakan bahwa semua terjadi dengan sendirinya?

Pada kenyataannya, big bang hanya terjadi sekali sehingga semesta ini sampailah pada suatu keadaan di mana memunculkan kehidupan di dalamnya. Semesta ini begitu langgengnya, selama belasan Milyar tahun tidak terinterupsi atau terganggu oleh sesuatu yang merusaknya sehingga manusia dapat terbentuk dan berkehidupan di dalamnya. Dan setelah kehidupan terjadi, kelak semesta akan masuk ke dalam black hole, sebagai ujung perjalanan realitas yang dapat ditangkap manusia.

Jadi, perjalanan semesta ini ditilik dari sudut pandang manusia menjadi sesuatu yang tidak biasa. Punya makna alias tidak sia-sia. Tidak asal-asalan, tetapi punya tujuan yang teguh berjangka panjang untuk melahirkan manusia-manusia.

Tetapi lihatlah kemudian, betapa di antara manusia yang terlahir itu ada yang bertindak asal-asalan dengan menyakiti yang lainnya secara semena-mena hanya karena ia merasa lebih kuat, lebih kaya, lebih cerdas?

Apakah mungkin bila skenario umum semesta itu tak memiliki skenario kepada para individu yang telah berbuat sombong itu?