Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Saturday, April 11, 2009

Seusai Pemilu Legislatif . . . what next ?

Belum bisa bernafas lega. Masih ada berbagai kemungkinan gara-gara pelaksanaan pemilu kali ini diwarnai banyak kesemrawutan. Makanya wajar saja beberapa dari mereka yang kurang beruntung dan yang mengambil sikap oposisi dengan pemerintah berancang-ancang mengambil tindakan upaya hukum.

Asalkan masih dalam koridor hukum yang jelas hal itu tidak ada masalah, dan memang begitulah seharusnya demokrasi. Tapi sepertinya tidak akan berujung pada kesimpulan bahwa pemilu inkonstitusional yang mengharuskan adanya pemilu ulang. Lebih mengarah pada penyorotan terhadap kinerja pemerintahan yang tidak berhasil, yang sangat mungkin akan digelindingkan sebagai isu untuk mengalahkan rival pada pemilihan capres mendatang. So, lebih kental dengan nuansa politik ketimbang segi hukumnya.

Paralel dengan hal di atas, perasaan senasib jadi korban ketidakberesan pemilu ini pun dimanfaatkan juga sebagai momentum untuk menggalang berdirinya blok partai oposan. Jadi, sementara ini ada 2 kutub yang tampak. Akankah ada poros alternatif yang dari kemarin sudah didengung-dengungkan oleh salah 1 partai? he he, maklumlah...

Apapun, all i can do is ngeliat aja rangkaian proses penentuan ini. Mudah-mudahan pemerintahan 5 tahun mendatang dipegang orang-orang yang tepat, karena mestinya inilah saat yang ideal untuk membangun kembali setelah periode reformasi. Lebih dari 10 tahun sudah negeri ini meninggalkan titik hitam krisis multidimensi. Dalam perjalanan 5 tahun ke depan akan terlihat secara fair : baik atau tidaknya kinerja pemerintahan. Tidak ada lagi bayang-bayang orde baru, tidak ada lagi bayang-bayang periode transisi. Mata rantai boleh dikatakan telah terputus dan tatanan telah tertata ulang.

Satu pe-er besar masa kini adalah bagaimana dapat eksis di tengah konstelasi perekonomian internasional. Kemerdekaan bangsa ditentukan dari ketangguhan kita menghadapi persaingan global. Indikator yang dapat kita tangkap sebagai orang awam adalah nilai tukar Rupiah. Yang lain mungkin perbandingan antara ekspor dan impor.

Dan, krisis global adalah tantangan pertamanya..


* Catatan :

Terimakasih kepada yang secara sengaja memilih golput, kiranya sudah tercapai tujuan mereka : delegitimasi pemilu. Banyak partai yang telah menyadari ini (kemenangan golput), semoga para anggota legislatif yang nanti duduk di gedung dewan itu melakukan perubahan mentalitas dalam tugasnya sebagai wakil rakyat.

Bagi warga yang ikut memilih, golput adalah sikap yang pasif, karena dengan memilih kita tidak hanya sekedar mengharap, tapi berupaya melahirkan tangan-tangan yang diharapkan mampu menegakkan kebaikan, menyuarakan keadilan, dan memberantas kebobrokan bangsa.
Bagaimanapun tidak akan ada titik temu langsung(antara pemilih dan golput), yang penting semua memiliki tujuan yang sama: indonesia yang lebih baik. Tentu saja apabila tidak didasari pada kepentingan golongan dan sesaat belaka.

Satu hal lagi, syukurlah banyak sekali partai yang perolehan suaranya di bawah parliamentary threshold. Sudahlah cukup 9 atau 10 saja partai untuk pemilu selanjutnya, atau bisa lebih sedikit lagi. Karena semakin banyak partai hanya akan menunjukkan kelas rendahan perpolitikan di negara ini!


No comments: