Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Thursday, April 2, 2009

Situ Gintung

Baru di hari ke 6 tersadar, betapa tragedi Situ Gintung begitu memilukan. Potret dari jarak dekat dalam liputan di metro tv di antaranya mengkisahkan seorang ayah yang ditinggal mati oleh istri dan semua anak-anaknya. Kini dia kembali hidup sendiri setelah berpuluh tahun melewati manisnya kehidupan bersama keluarganya.

Situ Gintung tak ubahnya seperti tragedi tsunami Aceh dalam skala lokal. Air bah menerjang di pagi hari merenggut banyak jiwa. Kepergian para korban dan tangis kesedihan keluarga yang ditinggalkan sungguh tidak akan membawa makna manfaat apabila kita tidak mengambil hikmahnya.

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran. Pertama, bahwa bencana itu terjadi di pagi hari. Tentu kita ingat, 2 bencana sebelumnya juga terjadi di pagi hari yaitu tsunami aceh dan gempa di yogyakarta. Ketiga-tiganya telah merenggut banyak korban karena kebanyakan dari mereka tidak terjaga saat bencana datang. Dalam kondisi masih tertidur, tentu kesiapan pikiran dan tingkat spontanitas sangat rendah saat terbangun oleh suara / getaran bencana. Ada baiknya kini kita perlu membiasakan budaya bangun pagi, karena setidaknya hal itu juga baik untuk kesehatan tubuh kita. Bagaimanapun takdir tidak bisa kita hindari bila sudah saatnya, akan tetapi pikiran sadar kita selalu berhak untuk menghindarkan diri kita dari ancaman dan ketakutan.

Kedua, kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat sesungguhnya adalah pemberian/ anugerah tiada terkira dari Tuhan, bukan suatu hak. Hari ini kita mungkin sedang bercanda ria atau berselisih dengan anggota keluarga, tetapi besok tidak ada jaminan masih bersama mereka lagi. Itu mungkin yang dialami oleh sebagian korban Situ Gintung. Sebelumnya mungkin tidak terpikirkan sama sekali, kejadian dahsyat akan menimpa mereka. Karenanya, haruslah kita mensyukuri setiap kebersamaan dengan penuh kasih sayang dan menghindari permusuhan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, semua tidak luput dari resiko ini. Apabila bencana datang, rumah akan rusak dan mobil mewah berserakan bak sampah. Apa yang patut dibanggakan dari hidup yang bukan berjalan dalam pengetahuan dan perencanaan kita?

Ketiga, inilah sisi kelam bangsa ini, di mana kita belum memiliki kesadaran untuk melakukan antisipasi. Benar-benar masih banyak yang luput dari pengamatan, atau tidak cermat dalam menyusun skala prioritas ??!! Bagaimana metodologi dan kinerja di departemen itu, bukankah mereka memiliki divisi penelitian dan pengembangan untuk menentukan mana-mana proyek yang urgent ? Atau apakah mereka tidak cukup punya teknologi untuk mengevaluasi sesuatu obyek sipil? Sungguh mengherankan... Kenapa obyek vital peninggalan Belanda yang jelas-jelas berusia lebih dari 50 tahun itu tidak di direhabilitasi kekuatan konstruksinya. Huh, kalau saja kabinet tidak berada di ujung masa kerja, mundurnya sang Menteri PU adalah keharusan !!

Berbicara lebih luas dari sudut ini, kiranya sangat beralasan untuk merasa aneh terhadap pengalokasian anggaran belanja negara kita. Bagaimana dasar penetapan APBN sehingga anggaran pendidikan mendapatkan angka sebesar 20% ??? Apakah pantas kita bangga telah mengucurkan dana yang besar di sektor pendidikan sementara masih banyak ancaman jiwa di sekeliling kita ? Apakah telah cukup anggaran di bidang pembangunan fisik dasar sehingga jiwa kita mendapatkan perlindungan yang memadai ? Dan lagi, apakah segenap jajaran pendidikan sudah siap mengelola kucuran dana sebanyak itu?? Ketergesa-gesaan penerapan anggaran tanpa didahului analisa yang cermat hanya akan mengakibatkan kebocoran di mana-mana !! Seharusnya perlu tahapan-tahapan yang harus dilalui agar anggaran dapat terserap secara efektif dan efisien. Seharusnya ditinjau kembali model penerapan anggaran yang secara membabi buta itu.

Bagaimanapun, keselamatan jiwa harus didahulukan sebelum pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kalau kita mencermati ”fasilitas-fasilitas” publik di sekitar kita, sungguh kekurangan ada di sana sini. Di bidang transportasi misalnya, sering kita temui lebar jalan yg tidak sesuai kapasitas lagi, pengaman jalan tepi jurang/sungai tidak ada, trotoar tidak ada, rel kereta tanpa palang pintu dll. Di bidang lain kita juga temui : sungai-sungai yang mengalami pendangkalan sehingga banjir tahunan terus meluas, lemah / minimnya aparat dalam mengendalikan keamanan di masyarakat, sampai pada sulitnya akses kesehatan bagi warga miskin, semua itu perlu mendapat perhatian khusus (baca : anggaran khusus).

Penerapan teknologi dan sistem automatisasi pada fasilitas publik juga patut diutamakan di pos-pos yang rawan terjadinya human error ataupun rawan adanya sabotase pihak ketiga (kriminalitas). Seringkali kecelakaan (misalnya di sektor transportasi) terulang gara-gara minimnya support teknologi dan keteledoran petugas di lapangan, kecelakaan yang mana tidak / jarang terjadi di negara-negara maju. Saatnya memanfaatkan teknologi untuk meminimalisir dampak bencana, tidak hanya terhadap bahaya tsunami saja diaplikasikan teknologi tinggi (early warning system).

Bercermin dari serentetan bencana yang berakhir di Situ Gintung, tidak ada pilihan lain, Indonesia harus mempertajam sensitivitas di semua bidang, di setiap departemen, untuk lebih memastikan tidak adanya faktor kesalahan pengelolaan sehingga dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Tidak sekedar latah hanya mengurusi waduk di setiap daerah, tp juga wajib segera menilik berbagai bidang yg lain : kesehatan, makanan, sosial, hukum dan kriminalitas, dll. Dengan demikian semoga di masa mendatang Indonesia tidak ada lagi kekagetan-kekagetan akibat bencana yang berada di luar pengamatan kita. Karena bencana bukanlah bencana alam semata, tetapi banyak hal yang dapat menyebabkan kebinasaan dan kesengsaraan manusia, dari yang kasat mata, hingga yang bersifat laten : bencana moral.

No comments: