Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Friday, November 23, 2012

Tentang Mukjizat : menelusur di antara Baik dan Benar (bagian 1)




Mukjizat adalah kehendak Tuhan dengan tujuan umumnya adalah sebagai tanda-tanda kekuasaanNYA bagi manusia. Namun, tujuan kontekstual dari mukjizat tak bisa dirumuskan. Kita lihat bagaimana karakteristik tujuan kontekstual dari mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi di dunia :

  • Suatu ketika menolong, suatu ketika memberi pelajaran.
  • Suatu ketika mengalahkan, suatu ketika menimbulkan ketakjuban,
  • Suatu ketika mengabulkan doa, suatu ketika menjawab tantangan,
  • Suatu ketika menyempurnakan ketetapanNYA, suatu ketika melekatkan kemampuan tertentu yang dikehendakiNYA.


Maksud di atas adalah bahwa Nabi tidak berdaya untuk memilih mukjizat itu, sepenuhnya mukijzat turun karena mengikuti kehendakNYA. Kondisi ekstrimnya adalah bahwa pada kenyataannya ada Nabi yang tertolong nyawanya dengan mukjizat, namun ada juga Nabi yang terbunuh.
(Catatan: Terkait Nabi yang terbunuh itu secara ghaib diterangkan oleh Tuhan setelahnya, bahwa Nabi yang terbunuh itu sebenarnya dalam keadaan tersejahterakan di alam yang lain, meskipun secara pandangan manusia di dunia tidak terjadi mukjizat yang menolongnya. )

Maka berdasar kondisi tersebut, tidak tepat kalau di dunia ini kita terlalu mengharapkan mukjizat dalam pengertian munculnya suatu kejadian yang adikodrati. Bukan saja karena kita sangat jauh dari sifat Nabi, tapi juga karena Nabi saja tidak dapat menentukan sendiri tentang mukjizat, apakah diturunkan atau tidak. Dan yang terpenting adalah bahwa sebenarnya mukjizat bukanlah tujuan hidup, melainkan bagaimana mendapatkan keridloanNYA.  

Mukjizat [dalam pengertian yang lazim digunakan] hanyalah salah satu cara Tuhan mengajak komunikasi kepada manusia. Komunikasi dalam bentuk pengajaran, atau pertolongan, atau pemberian kemampuan, atau yang lainnya. Sedangkan wahyu [yang diturunkan kepada Nabi] juga bentuk komunikasi Tuhan yang lainnya. Karenanya, tepatlah apabila wahyu disejajarkan sebagai mukjizat juga, atau bahkan menganggap wahyu lebih tinggi dari mukjizat, karena komunikasi Tuhan kepada manusia dalam wahyu itu berlangsung terus menerus. 

Al Quran pada saat turun satu per satu ayatnya pun sebenarnya adalah sesuatu yang adikodrati, hanya saja itu berlaku terbatas pada diri Nabi dan kadang di sekelilingnya juga. Misalnya, tubuh Nabi tiba-tiba bertambah berat pada saat menerima wahyu sehingga unta yang membawa Nabi sampai-sampai tak kuat berdiri. Al Quran adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia, yang dibukukan dan terus menerus hadir di kalangan manusia.

---

Mukjizat tidaklah berada dalam kaidah hukum benar-salah yang biasa dikenal dan dipelajari oleh manusia (sebut saja hukum alam utama), tetapi ia masih berada dalam ranah perintah dari Tuhan. Mukijzat tidak menyalahi hukum alam utama, karena hukum alam utama itu tidaklah sesuatu yang absolut dan berdiri sendiri. Hukum alam utama pun juga sedang menjalankan perintahNYA. 

Dengan demikian, kebenaran sejati menjadi tergantung oleh Kehendak Tuhan. Sesuatu dikatakan benar sejati ketika selaras dengan cara materi dalam memenuhi kehendak Tuhannya. Dan tabiat materi adalah selalu tunduk kepada kehendakNYA. Maka ketika Tuhan tidak merubah ketentuan yang terdahulu terhadap alam, maka selamanya alam dengan segenap materinya akan selalu mengikuti ketentuan terdahulu tanpa berselang satu detik pun. Konsistensi alam yang selalu tunduk itu kemudian diamati oleh manusia dan ditemukanlah berbagai rumusan ilmu pengetahuan. Dari pengamatan itulah berkembang menjadi cara-cara “memanipulasi” sehingga bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

---

Tunduk kepada perintah Tuhan adalah kebaikan, sehingga materi sejatinya selalu dalam kebaikan. Dan materi juga selalu dalam kebenaran, dengan pengertian bahwa cara berperilakunya itu dijadikan acuan bagi manusia dalam berinteraksi di alam itu. 

Maka satu-satunya hukum Tuhan yang berlaku di alam ini adalah hukum baik-buruk. Yang dinamakan kebaikan adalah menjalankan perintah Tuhan, yang dinamakan keburukan adalah meninggalkan perintah Tuhan. Kebaikan berakibat kebaikan, dan keburukan berakibat keburukan. 

Sedangkan posisi hukum benar-salah adalah mengacu kepada bagaimana cara materi dalam melaksanakan kebaikan. Ini mengandung pelajaran, bahwa manusia hendaknya selalu memperjuangkan dirinya agar selalu dalam kebaikan sekaligus kebenaran. Kebaikan untuk pertanggungjawaban kepada Tuhan, kebenaran untuk mencapai interaksi yang harmonis dengan alam.

Demikianlah sebatas pemikiran personal yang terbatas. 

[mungkin] bersambung.

Wallahu a’lam.

No comments: