Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Wednesday, January 9, 2013

Belajar "Membaca" Kitab Suci (1)

Sebagian orang mungkin nyeletuk, “Ini isinya cuman begini, apanya yg hebat?”

Pertama, sudahkah membaca secara menyeluruh? Karena manusia hidup dlm keadaan menyatu dari ujung jari, akal hingga jantungnya, sehingga yang tepat baginya adalah paket pengetahuan yang utuh-menyeluruh pula. Kedua, sudahkah mencoba membacanya dengan perangkat baca yang lengkap, di antaranya dengan kepekaan mata hati? Terakhir, ketika ingin mengkritisi, apakah sudah menggunakan kesepakatan / landasan yang sama, yaitu tentang paket keimanan?

Di point kedua menyinggung soal hati? Apalagi itu, kan hanya fenomena saja?
Wah, ya terserah saja kalau hati hanya dianggap fenomena tak penting, karena nyatanya faktor fenomena itu mampu mengobrak-abrik tatanan hidup, mampu membutakan diri sehingga mengingkari fakta-fakta materi dan rasio. Mampu membuat hidup hambar, pikiran kosong, frustrasi, depresi, hidup segan mati tak mau, bunuh diri, gila, dan lain sebagainya. Jadi layak kah mengingkari hati, sedangkan ia sangat mungkin akan teraduk-aduk dengan sendirinya di antara dinamika hidup yang tak terduga-duga: kematian seseorang yg dibutuhkan, mendapat rejeki besar, kecelakaan fisik, mendadak terkenal hebat, dirampok, mendapat peluang bisnis besar, diteror, diperkosa?

Kitab suci mengetuk dan mengelola hati, menggugah kesadaran sebagai makhluk, menumbuhkan rasa akan adanya kasih-sayang Tuhan tak terbatas, mengajak manusia menikmati hidup bahagia kekal di atas semua keadaan.

Bahagia di atas semua keadaan? Memang tak mudah bagi yang mau mudahnya saja, tetapi bisa diraih bagi yang bekerja keras memfungsikan potensi utuh dirinya. Dan ketika ada sederet kisah manusia mulia yang telah membuktikannya, maka itu seharusnya memberikan keyakinan bahwa konsep dari Kitab Suci adalah benar adanya. Itu bukanlah hal yang utopis, mengingat kitab suci sebagai Firman Tuhan pastinya berkompeten dalam memperkuat semua fitur kebahagiaan dan pertahanan diri. Bukan sekedar sugesti, tetapi nyata berharmoni dengan lingkungan sehingga memiliki kesinambungan.

Kitab suci bukan tulisan biasa, tetapi luar biasa. Rentangnya dari satu ujung yang ekstrim kepada ujung lainnya yang ekstrim. Dari surga hingga neraka. Diamini oleh sebagian manusia dengan kesyukuran tertinggi, dihujat oleh sebagian manusia dengan ke-angkaramurka-an tiada tara. Mengungkap kebaikan tertinggi yang bisa dicapai manusia sekaligus menerangkan potensi kejahatan tertinggi pula. Memang demikianlah keadaannya, yaitu ada di sepanjang rentang keadaan umat manusia.

Salah satu upaya dalam “membaca” Kitab Suci, kiranya bolehlah kita memikirkan bagaimanakah kedudukan Kitab Suci dalam ruang komunikasi Tuhan – makhluk.
  1. Kitab Suci adalah bentuk komunikasi dari Komunikator (Tuhan) kepada komunikan (manusia). Di sini kitab suci hanya eksis (berarti) bagi yang mengakui adanya sang Komunikator dan syarat yang ditetapkan oleh Komunikator. Syarat itu adalah paket keimanan.

  2. Tuhan adalah Komunikator Terbaik karena memahami sepenuhnya diri manusia, sehingga pasti menyampaikan pesan sesuai totalitas keadaan manusia. Secara total di sini juga berarti bahwa pesan sudah final dan jelas adanya sehingga komunikan tak perlu bertanya balik kepada Komunikator untuk meminta penjelasan atau menanyakan hal lainnya. Sejauh komunikan menggunakan kemampuan analisisnya dengan baik, maka semua hal dalam kehidupan akan turut dapat terjelaskan maknanya.

  3. Totalitas pesan juga berarti melintasi perbedaan tingkat pemahaman manusia dan juga perkembangan jaman. Hal ini terwujud dalam kesederhanaan pesan pada kesan awalnya, dan beranjak kompleks pada kesan-kesan selanjutnya apabila ditelusuri lebih mendalam dan dirangkai lebih menyeluruh.

  4. Pesan ditujukan kepada semua perangkat kesadaran yang mempengaruhi segala keadaan manusia. Secara simple, perangkat kesadaran tersebut adalah akal rasio dan hati. Akal rasio sebagai pengolah informasi realitas, sedangkan hati adalah pengolah energi dalam diri.

  5. Pesan memiliki karakter tertentu sesuai perangkat penerimanya, apakah akal rasio ataukah hati. Kesesuaian antara karakter kata dengan perangkat penerima akan mendukung tersampaikannya pesan-pesan secara sempurna. Pengulangan-pengulangan ayat adalah salah satu bentuk penyampaian pesan kepada hati.

  6. Pesan bersifat efektif, yakni bermakna tinggi karena berorientasi kuat pada manfaat yang menggerakkan diri ke dalam atau ke luar untuk mencapai berbagai tujuan penting secara langsung maupun tidak langsung.

  7. Efektifitas pesan juga tertuang dalam bentuk muatannya yang serius, yang tak layak diremehkan oleh komponen kesadaran yang berhasil memahaminya, karena seakan telah terjadi “reaksi kimia” antara sistem kesadaran dengan pesan . Karenanya akan menjadi hal yang secara otomatis mengikat bagi siapapun individu yang memahaminya. Dan, setiap kata memiliki muatan yang berarti, tak ada yang bisa diabaikan.
Demikianlah sebatas pandangan penulis.
Wallahu a’lam.

No comments: