Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Wednesday, February 20, 2013

Yang Kutahu Pasti tentang Tuhanku

  1. DIA lah yang meng-ada-kan kesadaranku dalam sejarah manusia, sehingga aku dapat mengungkapkan rasa terimakasih padaNYA. Itulah kebaikan pertama dan terutama. Sebagai reaksi (yaitu berterimakasih) atas aksi terbesar yang aku terima (di-ada-kan) untuk keseimbangan hidup. Rasa terimakasih yang tak hanya di pikiran (mulut) saja, tetapi terwujud nyata dalam tindakan (respon positif terhadap perintah dan laranganNYA) yang mendukung kesejatian diri.

  2. DIA lah yang menyuruhku berbuat baik setinggi-tingginya untuk diri sendiri dan alam. Juga menyuruhku untuk menggunakan akal dengan sebaik-baiknya.

  3. DIA lah yang memberikan pengajaran sehingga dapat tertanam keyakinan dalam diri sebagai dasar yang kokoh tempat bersemayamnya segala kebahagiaan.

  4. DIA lah yang menjanjikan hasil kebaikan di masa depan, sehingga aku bertahan terhadap usaha kebaikan yg tak menghasilkan di masa kini. Dengan keyakinan itu, kebaikan selalu terpancar ke diri dan ke alam dengan tak henti-hentinya, tak terganggu oleh keadaan negatif apapun.

  5. DIA lah yang memberi cahaya hakikat nasib akhir jagad raya yang dahsyat ini, dan mengkabarkan kebahagiaan dan kesengsaraan kehidupan di masa depan. Dengan keyakinan itu, eksis lah berbagai upaya “sebab” yang terdedikasikan untuk “akibat” di kehidupan selanjutnya (kedua). Sebab-sebab kebaikan tertuju kepadaNYA sebagai Yang memasang neraca keadilan di jagad raya ini. DIA lah yang memastikan bahwa mustahil ada aksi yang tak menghasilkan reaksi, termasuk pada ranah batiniah. Tak ada kesadaran yang bakal dirugikan. Pada akhirnya, keyakinan ini melahirkan ketenangan karena jawaban yang tuntas atas pertanyaan dan penasaran alamiah seputar ketidakadilan dan berbagai misteri kehidupan.

Tulisan di atas memang baru sebatas semangat karena belum teraplikasikan seluruhnya. Mencoba untuk memahami Tuhan dalam bingkai “persepsi” yang menciptakan kebahagiaan dalam diri. Sejenak membebaskan diri dari berbagai paham “obyektif” tentang Tuhan yang melelahkan dalam perdebatan.


Pada setiap relasi antara individu A dan B selalu memiliki dampak eksternal (obyektif) maupun internal (subyektif). Dampak eksternalnya adalah perlakuan B ke A atau A ke B. Dan dampak internalnya adalah perubahan pada masing-masing diri A dan B.
Sedangkan relasi antara manusia dengan Tuhan, hanya akan berlaku dampak eksternal dan internal pada manusia, dan tidak berdampak apapun kepada Tuhan yang maha. Namun, ketika dampak eksternal pada manusia tak mudah untuk diulas di antara sesama, maka dampak internal menjadi hal yang penting untuk dijadikan salah satu pendekatan.


أَعُوذُبِاللَّـهِ مِنَالشَّيْطٰنِ الرَّجِيمِ
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. (Yunus:108)

No comments: